Pendidikan, Memanusiakan Manusia PDF Print E-mail
Written by Adi Sutanto   
Monday, 24 December 2007

Oleh: Yessi Mulyani 

Manusia adalah ciptaan Tuhan YME, yang diberikan 3 kelebihan utama, pertama dari ruh yang bisa membuat manusia hidup di muka bumi, kedua tubuh/jasad yang sempurna dan ketiga adalah akal yang mampu membuat manusia bisa menaklukkan dunia dan alam sekitarnya untuk memudahkan kehidupannya. Makhluk hidup lain yang diciptakan Tuhan YME tidak memiliki akal, akal inilah yg melebihkan manusia dari makhluk lainnya. Dengan kemampuan menggunakan akal inilah manusia baru dapat dikatakan manusia.

Kemampuan bagaimanakah sehingga kita dapat menggunakan akal kita dengan baik? Jawabnya agar akal kita berfungsi dengan baik adalah berpikir.

Berfikir adalah cara akal bekerja, sementara apa yang dibutuhkan oleh akal untuk berfikir tidak lain adalah ilmu.

Ilmulah yang membuat manusia menjadi bisa menaklukkan alam semesta, dan dengan ilmu jualah manusia mampu mengendalikan ruh dan jasadnya, sehingga manusia bisa menjadi manusia yang seutuhnya.

Kemudian timbul pertanyaan apakah hubungan antara ilmu, pendidikan dan akal?. Ilmu adalah buah dari hasil pendidikan dan proses pendidikan harus menggunakan akal.

Menurut Prof. Hassan Langgulung (1987) menegaskan pendidikan sebagai mengubah dan memindahkan nilai-nilai kebudayaan kepada setiap individu masyarakat melalui pelbagai proses. Proses pemindahan tersebut ialah pengajaran, latihan dan indoktrinasi. Pemindahan nilai-nilai melalui pengajaran ialah memindahkan pengetahuan dari individu kepada individu yang lain; dan latihan ialah membiasakan diri melakukan sesuatu bagi memperoleh kemahiran, sementara indoktrinasi pula menjadikan seseorang dapat meniru apa yang dilakukan oleh orang lain. Ketiga-tiga proses ini berjalan serentak dalam masyarakat primitif dan modern. Dan menurut pendapat Dr. Yusuf al-Qardawi (1980) pula mendefinisikan pendidikan sebagai pendidikan bagi keseluruhan hidup termasuklah akal, hati dan rohani, jasmani, akhlak, dan tingkah laku. Ia bertujuan untuk menyediakan manusia bagi menghadapi masyarakat yang sering menghadapi kebaikan dan kejahatan, kemanisan dan kepahitan.

Konsep pendidikan berdasarkan kutipan Zawawi (1981), Pendidikan berakar umbi daripada perkataan didik yang berarti pelihara, ajar dan jaga. Setelah dijadikan analogi, pendidikan boleh diuraikan sebagai satu proses yang berterusan untuk menjaga dan memelihara pembesaran tubuh badan dan pertumbuhan bakat manusia dengan rapi supaya dapat melahirkan orang yang berilmu, baik tingkah laku dan dapat mengekalkan nilai-nilai budaya di kalangan masyarakat.

Orang yang mempunyai gelar dan pangkat yang tinggi bukan menjadi tolak ukur bagi dirinya telah menjadi manusia seutuhnya, karena belum tentu dia memiliki pengalaman yang banyak, pendidikan yang benar. Dengan adanya pendidikan yang benar maka manusia dapat menjadi manusia yang seutuhnya (memanusiakan manusia), seseorang yang memiliki pendidikan yang kurang banyak tentu kurang juga pengalamannya yang dapat kita lihat dari segala gerak-geriknya yang tidak baik yang membuat banyak orang menderita. Tentu di sini yang menjadi tolak ukurnya adalah pendidikan yang benar dengan ikuti pengalaman latihan yang baiklah yang mampu memanusiakan manusia, yang mampu membuat manusia itu berprilaku memberikan manfaat bagi banyak orang.

 
< Prev   Next >

Shout Box

Name:

Message:

Polling

What do you think of our new website design?
 

Visitor(s)

We have 1 guest online