Wanita 1000 Rupiah PDF Print E-mail
Written by Adi Sutanto   
Thursday, 14 February 2008

Oleh : Laelatus Syifa

“Dijual… dijual!!! Diobral Manusia dengan merk Gadis, Wanita dan Perempuan, Rp 1000,- per biji, dijual terpisah, juga bisa dibeli dalam paket hemat di toko-toko terdekat”

Wanita kini layaknya barang murahan, orang-orang bisa mendapatkannya dengan cara yang mudah dan murah, terjangkau di manapun manusia berada. Di kertas-kertas tak bermoral bisa didapat wanita dengan pose apa saja, di dunia maya wanita selalu tersedia, mau telpon? Internet? Film? Ooo.. dijamin ada. Wanita bahkan merambah ke bidangnya lelaki, coba cari iklan otomotif atau kondom misalnya, yang tak menggunakan makhluk yang namanya wanita, paling tidak bakal muncul suara wanita.

Berbagai pernak-pernik barang yang mengeksploitasi tubuh wanita sering ditemukan, baru-baru ini muncul korek api bergambar wanita hanya seharga seribu rupiah. Itu hanya sebagian kecil contoh. Pengeksploitasian wanita pada produk-produk baru-baru ini ditujukan untuk membuat barang menjadi lebih laku. Bisa anda simpulkan mengapa barang-barang dengan wanita bisa menjadi lebih laku? Secara kasar mungkin bisa disebutkan bahwa wanita adalah barang komoditi multifungsi, Wanita sebagai symbol kefemininan, keseksian sekaligus kejantanan.

Dalam tata bahasa Indonesia kata ‘perempuan’ mengalami peyorasi, maknanya yang berarti yang dipertuan menjadi bermakna negative dan digantikan dengan kosakata baru ‘wanita’ yang berarti yang diinginkan… Memang benar kata orang, nama adalah doa, sekarang kaum hawa ini lebih diartikan sebagai orang-orang yang diinginkan yang digunakan entah untuk keuntungan siapa ketimbang sesuatu yang dipertuan dan diagungkan.

Benarkah wanita dijebak? Atau malah menjebak? Mengulik masa lalu sejenak sebuah rumor yang kini termakan usia, ketika RUU APP akan diresmikan saja semua berkoar-koar tak membolehkan ketok palu RUU ini. Seakan-akan dunia akan menjadi neraka kalau yang namanya pornografi dihentikan… ini menunjukkan betapa pornografi telah menjadi konsumsi primer bagi sebagian warga. Padahal kita ketahui sendiri kalau pornografi itu lahan basah eksploitasi wanita. Wanita pun angkat bicara, seperti biasa ada yang setuju, ada yang tidak, ada juga yang masa bodoh… tak mengerti dan tak mau tahu. Terserah dengan pendapat yang mengatakan bahwa RUU APP memenjarakan ekspresi tapi setahu saya RUU APP hanyalah sebuah aturan kerdil yang ingin meminimalisir pikiran mesum. Yang miris adalah ketika saya membaca seorang wanita penentang RUU APP menuliskan “My Body My Self” dari sini ketahuan siapa yang menjebak dan siapa yang terjebak. Ternyata tidak hanya lelaki yang ingin mengeksploitasi wanita tetapi wanita sendiri mau mengobral diri atas nama ekspresi. Orang bilang mucikari yang menjebak para wanita menjadi jualan tapi nyatanya wanita menginginkan ekspresi diri yang menjadikan mereka tak mau diatur dengan aturan yang menyehatkan. Alih-alih setelah terjebak dengan jebakan sendiri, wanita hanya akan bisa merengek minta perlindungan hukum yang tak bisa mengembalikan kesucian mereka. Tragis.

Saya juga wanita, kami sama-sama berlayar dengan kapal berbendera wanita, ketika ada wanita yang dengan jalangnya mau melubangi kapal maka apakah pantas kita sebagai sesama wanita membiarkannya? Maka kita sesama penumpang kapal juga akan tenggelam dalam getirnya lautan. Kita juga bisa menjadi korban kebodohan wanita jalang, lihat saja begitu banyak fenomena pemerkosaan gadis-gadis tak berdosa hanya karena si lelaki terangsang setelah melihat film porno. Saya tidak mau itu terjadi pada saya, saudari saya, ibu saya, dan semua wanita yang tak pantas dihargai hanya dengan seribu rupiah.

Wanita yang indah bukan untuk tontonan melainkan untuk tuntunan. Wanita kembalilah menjadi perempuan, makhluk yang dipertuan, makhluk yang disegani, gadis yang terhormat, dan ibu yang mendidik, karena wanita memang tak pantas dihargai 1000 rupiah.

Untuk Wanita

yang tak pantas dihargai 1000 rupiah

 
< Prev   Next >

Shout Box

Name:

Message:

Polling

What do you think of our new website design?
 

Visitor(s)

We have 6 guests online