Login Form
Main Menu
| Home |
| About Us |
| Activities |
| Staff |
| Photo Gallery |
| FAQ |
| Contact Us |
Practical Guides
| For Current Students |
| For Prospective Students |
| For Alumnae |
Information
| Academics |
| Networks |
| Foods and Beverages |
| Miscellaneous |
Articles
| Science and Technology |
| Social and General |
Links
| NTUST |
| KDEI |
| DIKTI |
| Planet NTUST-ISA |
| Membangun Indonesia Jaya |
|
|
|
| Written by Adi Sutanto | |
| Sunday, 24 February 2008 | |
|
Oleh: Alex Chandra, mahasiswa tingkat S2 di National Taipei University of Technology, Taipei, Taiwan Beberapa waktu lalu saya terkejut dan kagum pada tulisan yang berjudul “Korea Saja Bisa, Apalagi Indonesia” yang dimuat di harian Kompas pada tanggal 26 Januari 2008. Hal yang sangat menarik adalah artikel tersebut ditulis dalam bahasa Indonesia dengan tata bahasa yang fasih oleh Koh Young Hun, yaitu seorang Profesor Program Studi Melayu-Indonesia, Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea. Artikel itu mengenai bagaimana Korea dapat melesat menjadi negara maju dan sesungguhnya Indonesia juga mempunyai potensi yang sama yang telah menjadi budaya Indonesia. Potensi yang dimaksud adalah sikap rajin, hemat, mandiri, dan gotong-royong. Jika bangsa Indonesia sudah memiliki potensi-potensi yang baik ini, lalu mengapa saat ini Indonesia belum juga semakmur negara-negara tetangga di Asia Tenggara lainnya? Saya ingin berpendapat bahwa kemakmuran bangsa Indonesia harus dimulai dari rasa percaya diri. Saat ini belum banyak orang Indonesia yang memiliki percaya diri yang sangat tinggi bahwa sesungguhnya negara Indonesia pun bisa makmur. Sebaliknya, seringkali saya temui orang Indonesia yang merasa rendah diri ketika berhadapan dengan warga negara asing untuk memperkenalkan diri. Percaya Diri Mengapa percaya diri penting? Percaya diri adalah awal dari segala keberhasilan. Jika seseorang tidak memiliki percaya diri, bahkan percaya bahwa dirinya akan gagal sebelum mencoba melakukan sesuatu, maka ia tidak akan bersusah payah untuk berjuang. Pada tanggal 22 Maret 2007, Yayasan Indonesia Forum mengadakan peluncuran buku Kerangka Dasar Visi Indonesia 2030 sekaligus untuk menyatakan Visi Indonesia 2030 di hadapan pers. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla turut menghadiri acara tersebut. Isi Visi Indonesia 2030 adalah sebagai berikut: 1. PDB Indonesia bisa mencapai USD 5,1 triliun. Dengan pendapatan perkapita USD 18.000 per tahun maka Indonesia akan berada pada posisi kelima ekonomi terbesar setelah China, India, Amerika Serikat dan Uni Eropa. 2. Sedikitnya 30 perusahaan Indonesia masuk daftar 500 perusahaan besar dunia (Fortune 500 Companies). 3. Adanya pengelolaan alam yang berkelanjutan. 4. Terwujudnya kualitas hidup modern yang merata. Pada saat Visi Indonesia 2030 dinyatakan, ada yang menanggapi dengan antusias, ada yang menanggapi dengan sinis, dan ada juga yang tidak peduli. Semua orang memang bebas berpendapat. Walaupun demikian, tentunya yang paling diharapkan oleh kita semua adalah tanggapan yang disertai dengan optimisme bahwa Visi Indonesia 2030 ini bisa tercapai. Apakah rasa percaya diri dan optimisme saja cukup? Kita tidak bisa hanya duduk diam dan mengatakan “Indonesia jaya” atau “Indonesia makmur” maka Indonesia menjadi makmur. Ini bukanlah sulap. Tidak mungkin tercapai apabila hanya diucapkan di bibir. Namun rasa percaya diri adalah titik permulaan untuk membuka peluang bahwa visi itu bisa tercapai. Strategi Berakit-rakit ke hulu berenang-renang kemudian. Demikianlah kata peribahasa yang artinya perlu bekerja keras sebelum menikmati hasilnya. Sebelum bekerja atau bertindak, ada satu hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu strategi. Strategi apa? Strategi untuk merencanakan tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan. Mengapa strategi penting? Ada pepatah dalam bahasa Inggris yang mengatakan “if you fail to plan, you plan to fail” yang artinya “jika Anda gagal membuat rencana, maka Anda berencana untuk gagal.” Strategi mutlak diperlukan. Strategi yang paling mudah adalah strategi meniru, yaitu mempelajari dan meniru langkah-langkah yang diambil oleh negara-negara yang sudah maju. Meniru langkah-langkah yang sudah terbukti berhasil adalah strategi yang paling mudah. Misalnya, ada negara yang kesehatan masyarakatnya baik, ada negara yang tingkat penganggurannya rendah, dan ada negara yang damai atau bebas dari konflik. Indonesia dapat meniru untuk menjalankan peraturan-peraturan yang diterapkan oleh negara-negara itu. Bertindak Setelah mempelajari dan merencanakan strategi, maka langkah berikutnya adalah bertindak. Tanpa tindakan, maka strategi menjadi sia-sia. Tanpa tindakan, maka tidak mungkin ada perubahan menuju cita-cita. Namun apakah ada jaminan untuk berhasil jika sudah bertindak? Tentu saja tidak ada jaminan untuk berhasil, tetapi sudah pasti tidak berhasil jika tidak bertindak. Bukankah begitu? Setiap tindakan pasti mengakibatkan suatu hasil. Entah hasil yang kita harapkan, entah hasil yang tidak kita harapkan. Yang pasti ada hasilnya. Jika sesuai dengan yang kita harapkan, maka kita sebut hasil itu sebagai kesuksesan dan berarti sudah saatnya untuk menciptakan cita-cita baru. Namun bagaimana kalau hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan? Secara umum ada tiga jenis respon yang berbeda dalam menghadapi hasil yang tidak sesuai harapan. Respon jenis pertama adalah menyerah. Kadang-kadang sambil membuat alasan atau menyalahkan keadaan. Ini adalah respon yang buruk dan jelas-jelas tidak akan membawa ke arah keberhasilan. Respon jenis kedua adalah mencoba untuk bertindak lagi. Dan bila gagal lagi, tidak masalah, masih bisa untuk mencoba lagi. Jika gagal lagi, coba sekali lagi. Apakah respon jenis kedua ini akan membawa ke arah keberhasilan? Jawabannya adalah tidak. Mengapa? Karena tindakan yang sama akan mengakibatkan hasil yang kurang lebih sama. Akhirnya orang-orang yang memilih pendekatan ini akan kelelahan dan menyerah. Orang-orang yang berhasil adalah orang-orang yang menerapkan respon jenis ketiga, yaitu mengganggap ketidakberhasilan sebagai pengalaman berharga yang perlu dievaluasi. Apa sisi positif dan apa sisi negatif tindakan sebelumnya, itulah yang dievaluasi. Yang positif dipertahankan, yang negatif dimodifikasi, dan kemudian mengambil tindakan baru. Jika gagal lagi, maka strategi diubah lagi. Lama-kelamaan akan menemui strategi yang sesuai untuk mewujudkan cita-cita. Hal yang saya sampaikan dapat dirangkum menjadi skema berikut ini:
Tercapai atau tidaknya Visi Indonesia 2030 hanyalah perkara waktu jika terus-menerus mengubah strategi dan tindakan. Suatu saat pasti tercapai. Apakah visi tersebut pasti tercapai tepat pada waktunya jika menggunakan metode yang saya sampaikan? Tidak ada yang dapat menjamin. Namun walaupun seandainya tidak tercapai pada tahun 2030, saya sangat yakin bahwa keadaan Indonesia akan menjadi jauh lebih baik. Tanggung Jawab Bersama Visi Indonesia 2030 bukanlah milik pemerintah Republik Indonesia, bukan juga impian sebagian rakyat Republik Indonesia. Visi Indonesia 2030 adalah milik seluruh bangsa Indonesia, oleh karena itu merupakan tanggung jawab kita bersama untuk mewujudkannya sebagai Warga Negara Indonesia. Barangkali ada yang bertanya, apakah yang dapat saya lakukan sebagai individu yang tidak dapat menentukan langkah-langkah kebijakan pemerintah Republik Indonesia? Sederhana saja. Berkomitmenlah dan kejarlah cita-cita hidup Anda dengan cara meniru dan mengikuti jejak orang-orang yang terlebih dulu mencapai apa Anda cita-citakan, dan juga terus mengubah strategi dan tindakan hingga berhasil. Tindakan yang diambil harus selaras dengan kejujuran dan nilai-nilai spiritual. Cepat atau lambat, cita-cita Anda akan menjadi kenyataan. Dengan keberhasilan Anda dalam meraih cita-cita, maka orang-orang lain di sekitar Anda, sedikit atau banyak, akan terinspirasi dan mengikuti jejak Anda. Satu demi satu kesuksesan yang dialami oleh orang-orang Indonesia tentu memberikan sumbangsih terhadap kemakmuran negara. Dirgahayu Indonesiaku. |
|
| Last Updated ( Sunday, 24 February 2008 ) |
| < Prev | Next > |
|---|



